Bulu tangkis, atau badminton, adalah salah satu olahraga yang paling digemari di seluruh dunia. Dikenal karena kecepatan dan ketepatan pukulan, Sejarah Bulu Tangkis adalah kisah evolusi yang menarik. Ia bertransformasi dari permainan kuno menjadi olahraga profesional yang diakui secara global.
Akar bulu tangkis dapat dilacak ke peradaban kuno di Tiongkok. Di sana, ada permainan bernama Jianzi yang dimainkan dengan kok. Tujuannya adalah menjaga kok di udara selama mungkin dengan kaki, tanpa raket. Konsep ini menjadi fondasi awal dari bulu tangkis.
Di Eropa, permainan bernama Battledore and Shuttlecock populer sejak abad pertengahan. Permainan ini menggunakan raket kayu dan kok. Dimainkan bolak-balik tanpa jaring, ini adalah hiburan yang populer di kalangan bangsawan Inggris.
Titik balik krusial dalam Sejarah Bulu Tangkis terjadi di India pada abad ke-19. Di sana, perwira militer Inggris mengadaptasi permainan Battledore and Shuttlecock. Mereka menambahkan jaring dan merumuskan aturan, mengubahnya menjadi olahraga kompetitif.
Permainan yang disempurnakan ini dikenal sebagai Poona, yang dinamai dari kota Pune di India. Poona adalah cikal bakal langsung dari bulu tangkis modern yang kita kenal sekarang. Dari India, permainan ini dibawa kembali ke Inggris.
Pada tahun 1873, Duke of Beaufort mengadakan pesta di kediamannya, Badminton House, di Gloucestershire. Di sana, permainan dari India tersebut dimainkan. Dari nama rumah inilah, nama “Badminton” berasal dan kemudian digunakan secara universal.
Inggris kemudian mengambil peran sentral dalam standarisasi olahraga ini. Pada tahun 1877, klub bulu tangkis pertama didirikan di Bath, Inggris. Klub ini merumuskan seperangkat aturan yang menjadi dasar dari Bulu Tangkis Modern.
Asosiasi Bulu Tangkis Inggris kemudian dibentuk pada tahun 1893. Mereka mengorganisir turnamen resmi, termasuk Kejuaraan Bulu Tangkis Inggris Terbuka yang menjadi salah satu turnamen tertua di dunia.
Dari Inggris, bulu tangkis menyebar ke seluruh dunia, terutama ke Asia Tenggara. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Tiongkok mengadopsi olahraga ini dan mendominasi kancah internasional hingga saat ini.
